Esport Indonesia Dikabarkan Akan Semakin Populer 2019

Esport Indonesia Dikabarkan Akan Semakin Populer 2019

Posted by

Thesims4cheats – Sekitar dua tahun lalu. Dapat dikatakan bahwa evolusi Esport di Indonesia tumbuh sangat cepat. Industri Esport di Indonesia mencakup turnamen Esport menjadi populer bagi seluruh dunia. Indonesia tetap menjadi salah satu pasar game terbesar di dunia. Di Asia Tenggara, Esport telah lama berbentuk kompetisi. Ini terjadi untuk pertama kalinya di Mal Taman Anggrek, yang diadakan pada 2015 di World Cyber ​​Games (WCG) dan memainkan game komputer. Dalam dua tahun terakhir, Esport Indonesia semakin bergerak dalam game mobile dan sangat populer. Esport Indonesia dikabarkan akan semakin populer pada tahun 2019, ini bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah bahwa beberapa orang dapat memperoleh rupiah.

Esport Indonesia Dikabarkan Akan Semakin Populer 2019

1. Pasar game Esport terus berkembang

Tahun lalu, pasar game Esport mencapai USD 378 miliar dengan peningkatan 13,3 persen dibandingkan tahun lalu. Newzoo memperkirakan bahwa tahun lalu ada 2,3 miliar pemain aktif. Seperti 1,1 miliar pemain atau 46 persen bersedia mengeluarkan uang melalui game Esport.  51 persen dari total pasar video game, yaitu $ 70,3 miliar. Untuk pertama kalinya, game seluler menyumbang lebih dari total pendapatan di industri game.

Industri game tidak hanya mencakup pemain, penerbit, dan pemain. Sekarang banyak orang menonton video yang ditautkan ke permainan di YouTube dan Twitch. Saat ini China adalah negara dengan pemain terbesar di dunia dengan angka USD 37,9 miliar. Amerika Serikat dan Jepang masih merupakan pasar terbesar kedua dan ketiga. Sementara itu, total biaya video game di wilayah Asia Pasifik mencapai USD -4,74 miliar pada tahun 2018. Asia Pasifik dianggap sebagai pasar game dengan pertumbuhan tercepat, berkat pasar India dan Indonesia.

Game mobile adalah alasan meningkatnya pendapatan video game di Asia Pasifik. Dengan infrastruktur telekomunikasi yang lebih baik dan permainan seluler yang semakin kompetitif, Asia Pasifik kini berkontribusi untuk 52 persen permainan di seluruh dunia. Di seluruh dunia, Newzoo memperkirakan bahwa Indonesia adalah pasar game terbesar ke-17 dengan total pendapatan $ 1.084milyar. Namun, menurut perhitungan Newzoo, pengguna internet di Indonesia hanya mencapai 82 juta.

Banyak orang skeptis bahwa pengembang pemain dapat membuat game mobile yang cukup kompleks untuk komputer yang bersaing atau game konsol. Namun, pada tahun 2018, jelas bahwa game mobile tidak kalah dengan game komputer tentang kompleksitasnya. Di tahun 2021, diperkirakan game yang bergerak ini akan menjadi industri dengan lebih dari $ 100 miliar. Menariknya, pertumbuhan game ponsel tidak mematikan game komputer. Meski tidak sebesar ponsel, game PC dan konsol juga terus tumbuh. Pada 2018, perolehan game konsol mencapai 34,6 miliar di game komputer mencapai USD 9 miliar.

Sekarang tidak ada perdebatan apakah “esport” terbatas pada kompetisi game di komputer atau ponsel. Pada 2019 Medcom.id memprediksi bahwa game mobile masih akan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan pedagang. Alasannya adalah bahwa semakin banyak ponsel sekarang mulai datang dengan presentasi spesifikasi yang ditujukan untuk pemain seluler, tidak hanya didorong oleh tren permainan ponsel.

2. Kompetisi Esport terus berkembang

Turnamen Esport semakin meningkat dan tempat-tempat pusat perbelanjaan banyak yang mengadakan kopetisi ini. Banyak pemain ekosistem Esport atau industri Esport di Indonesia mengadakan turnamen Esport dengan hadiah menarik. Tecops, computer, dan vendor komputer seperti prosesor dan kartu grafis memiliki lini permainan produk mereka juga telah memicu kecenderungan Esport dalam dua tahun terakhir di Indonesia. Seperti Acer, computer, dan laptop dengan segmen video game. 

Acer selama dua tahun terakhir telah menyelenggarakan dua Turnamen Esport  skala Asia melalui kontes Acer Predator League. Presiden Acer APAC (Andrew Hou) mengatakan mereka akan kembali menggelar Liga Predator Liga APAC pada 2019. Di awal tahun lalu, Andres mengatakan bahwa Acer tidak tertarik pada turnamen untuk memindahkan game. Game ini diklasifikasikan sebagai informal, dan pemain hardcore adalah game yang menggunakan komputer. Predator saat ini merupakan pilar Acer dalam industri game, dan saat ini masih fokus pada segmen yang berkontribusi pada bisnis.

Lenovo juga merupakan salah satu merek yang telah bersaing dengan kompetisi Legion of Champions dengan cakupan Asia Pasifik. Kompetisi ini telah berhasil memilih atlet profesional untuk perwakilan Indonesia. ASUS gagal merekrut tim Esport lokal sebagai duta merek. Momen popularitas ekspor telah menjadi kapal tidak langsung bagi penjual untuk menjual beragam produk mereka. Ini juga sama ketika kecenderungan permainan seluler mulai dianggap serius sebagai bagian dari esport. Pada akhir 2017, tren game pada mobile dianggap sebagai sumber paling subur. Beberapa vendor telepon mulai mencoba menjual produk yang dimaksudkan untuk memberikan keterampilan terbaik untuk bermain game.

ASUS telah bekerja secara serius pada seri smartphone terkemukanya seperti seri ASUS ZenFone Max Pro M1 dan Max Pro M2 terbaru. Mereka bahkan berani membawa playphone level tertinggi, ASUS ROG ke Indonesia. Memegang sejumlah permainan ponsel populer, vendor telepon ini juga berani terjun di turnamen Esport. Tidak sampai di sini, operasi telekomunikasi juga melihat game seluler ini sebagai lahan subur untuk menawarkan layanan yang terkait dengan game Esport.